Sering Gugup Ketika Presentasi? 12 Cara ini Bisa Mengatasinya!

Bagi sebagian orang, presentasi terkait pekerjaan maupun kegiatan public speaking lainnya bisa membuat mereka ketar-ketir. Bukannya tidak menguasai bidang yang mereka geluti, tetapi rasa nervous membuat ide-ide brilian atau apa pun yang ingin disampaikan mendadak menguap entah ke mana.

 Sebenarnya rasa grogi itu wajar. Namun kalau mengganggu jalannya presentasi atau bahkan ‘mengacaukannya’, kamu harus mencari jalan keluar untuk mengatasi rasa grogi berlebihan tersebut. Enggak lucu dong kalau mau presentasi di depan klien atau investor, eh, kamu bicaranya belepotan. Bisa dianggap kurang kredibel, deh, oleh mereka!

Jangan biarkan kesempatan emas lari begitu saja hanya karena terlalu gugup saat presentasi. Hepi Inc. memiliki 12 cara ampuh untuk mengatasi rasa grogi saat presentasi yang bisa kamu terapkan. Apa saja?

1. Kuasai materi

Lakukan persiapan dengan matang, terutama terkait materi yang akan disampaikan. Pahami semua materi secara menyeluruh hingga detail terkecil, jangan sampai ada satu atau dua hal yang tidak kamu mengerti.

Buatlah garis besar dari pembahasan yang akan disampaikan agar kamu lebih mudah menyampaikan materi presentasi (ini bisa menjadi pengingat jika kamu lupa apa lagi yang harus disampaikan serta menghindari pembahasan yang bertele-tele).

2. Antisipasi pertanyaan

Namanya juga presentasi, pasti akan muncul pertanyaan-pertanyaan terkait materi yang disampaikan. Terkadang, pertanyaan tersebut terlalu ajaib dan mungkin tidak pernah terpikirkan olehmu. Ini adalah hal penting yang harus kamu antisipasi.

Caranya, perbanyak riset pada masalah-masalah terkait yang akan kamu presentasikan. Sumber riset juga harus luas agar kamu memahami lebih luas konteks yang akan dibicarakan.

3. Hindari makanan pedas

Selain hal-hal yang berkaitan langsung dengan kegiatan presentasi, ada faktor ‘X’ dari luar yang bisa mengacaukan presentasi. Ya, makanan yang kamu konsumsi. Buat yang suka pedas atau makanan yang mengandung gas seperti kacang-kacangan, tahan-tahan dulu deh, kalau mau presentasi.

Rasa panik atau stres  akan memicu naiknya asam lambung. Jika kamu mengonsumsi makanan pedas atau bergas sebelumnya, lambung yang sudah tidak nyaman tersebut akan semakin beraksi dan memicu masalah pencernaan lain.

4. Minum air mineral

Selain membuatmu lebih fokus, minum air mineral akan membantu menyegarkan tenggorokan dan memberikan efek tenang. Sebelum presentasi, konsumsilah air  mineral secukupnya. Minumlah secara perlahan dan nikmatilah proses minum air tersebut.

5. Datang lebih awal

Terkadang rasa panik itu  muncul karena kita tergesa-gesa. Sebenarnya, kamu sudah mempersiapkan materi dengan baik. Namun saat datang terlambat, kamu menjadi terlalu panik dan semua yang telah disiapkan akhirnya berantakan.

Untuk menghindari hal yang tak diinginkan, datanglah lebih awal. Persiapkan dan periksa perlengkapan yang akan digunakan untuk presentasi. Amati ruangan yang digunakan untuk berpresentasi agar kamu tidak asing dan lebih nyaman. 

6. Berbincang sebelum presentasi

Ketika merasa gugup menjelang presentasi, jangan malah diam saja atau panik sendiri membuka materi yang akan disampaikan. Lebih baik tenangkan dirimu dengan menyapa kolega yang sudah datang. Ciptakan suasana hangat dengan kolega yang akan menjadi audiensmu agar rasa gugup atau tidak nyaman berkurang.

7. Lakukan peregangan

Presentasi ternyata butuh pemanasan. Tak perlu gerakan yang muluk-muluk, cukup gerakkan leher, tangan, dan kaki untuk meregangkan otot-otot yang tegang akibat rasa grogi.

8. Toilet first

Sedang fokusnya presentasi, eh, tiba-tiba kebelet. BIG NO! Toilet adalah tempat sakral yang harus kamu kunjungi di detik-detik akhir menjelang presentasi. Pastikan urusan dengan toilet telah selesai sebelum kamu berada di meja presentasi.

9. Gunakan mouthwash

Mouthwash atau obat kumur bisa membantu meningkatkan rasa percaya diri saat berbicara. Meski tidak bau mulut, penggunaan mouthwash ini penting untuk memberikan rasa segar pada mulut yang secara tidak langsung akan mempengaruhi mood kamu juga.

10. Pilih pakaian yang tepat dan nyaman

Penampilan menjadi salah satu elemen penting saat presentasi. Usahakan untuk menggunakan pakaian senyaman mungkin, bersih, dan tentu saja enak dipandang. Eits, ini bukan berarti harus ‘mewah’ dan ‘berlebihan’. Yang terpenting adalah menyesuaikan pakaian dengan kondisi lingkungan sekitar dan kepada siapa kamu akan berpresentasi.

11. Posisi badan yang benar

Posisi badan tidak boleh membungkuk, pastikan tubuhmu tegap. Namun jangan hanya tegap, kaku, dan terdiam seperti patung. Kamu bisa mengakalinya dengan sesekali bergerak atau berjalan ke sisi yang berbeda saat presentasi.

12. Jangan lupa berdoa

Setelah semua persiapan dilakukan, berdoalah sebelum memulai presentasi. Tanamkan juga pemikiran positif di kepala agar kamu semakin mantap untuk memberikan yang terbaik saat presentasi nanti. Itulah tadi beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi rasa gugup saat presentasi. Jadi, sudah siap untuk tampil maksimal di presentasi selanjutnya?

Love This Post

5 Tren Perilaku Konsumen Indonesia, Apa Saja?

Jika kamu berencana merintis bisnis atau sedang memikirkan strategi marketing yang jenius, salah satu hal yang harus dipelajari atau dipahami adalah tren perilaku konsumen.

Karena apa yang menggerakkan konsumen untuk membeli barang atau menggunakan jasa bisa menjadi gambaran, seperti apa ‘pasar’ yang potensial atau barang/jasa apa yang punya potensi besar untuk dijual di ‘pasar’ yang potensial tersebut.

Perilaku konsumen selalu berbeda-beda setiap tahunnya, tapi ada beberapa yang mengulangi tren-tren dari tahun sebelumnya dan ini bisa dijadikan gambaran bagi para pelaku usaha untuk mengenal perilaku konsumen mereka.

Berikut adalah tren perilaku konsumen Indonesia beberapa waktu terakhir yang telah HepI Inc. rangkum dari beberapa sumber. Yuk, intip!

1. Konsumen memiliki aspirasi lebih tinggi dibandingkan sebelumnya

Aspirasi masyarakat semakin lama semakin tinggi  dan beragam terhadap barang/jasa yang dipilih. Tak hanya bermanfaat, masyarakat juga mencari kenyamanan, nilai emosional yang lebih tinggi, dan bahkan ‘nilai barang/jasa’ yang lebih tinggi dengan alasan ‘status’.

Misalnya saja saat permintaan masyarakat terhadap jasa Grab-Car atau Go-Ride meningkat. Masyarakat yang menggunakan jasa tersebut bisa merasakan bagaimana punya supir pribadi atau punya mobil (bagi yang belum punya atau belum pernah naik mobil pribadi).

Nah, pelaku bisnis masa kini harus mampu menyediakan barang/jasa untuk memenuhi permintaan masyarakat yang ingin  merasakan pengalaman yang belum pernah mereka alami sebelumnya tersebut.

2. Faktor F yaitu Fans/Followers, Friends, Family

Jika dulu pebisnis berbondong-bondong menyebarkan promosi sebanyak-banyaknya, kini mereka harus memperhatikan berapa banyak follower atau subscriber yang dimiliki, dan seberapa tinggi engagement mereka.

Percuma bisa mendapatkan banyak saluran untuk beriklan jika faktor F tak berhasil dipenuhi. Karena faktor ‘F’ ini adalah kunci untuk mempertahankan konsumen lama sekaligus menarik kepercayaan konsumen baru.

3. Konsumen mudah menemukan sesuatu

Di zaman sekarang, masyarakat mudah melakukan pencarian lewat smartphone. Hal ini membuat masyarakat lebih mudah menemukan barang/jasa yang menarik perhatian mereka.

Ketika menemukannya, tentu masyarakat ingin mencari tahu lebih banyak barang/jasa tersebut.  Ini yang menjadi alasan penyematan UPC Barcodes atau QR Codes pada iklan atau TV komersial agar masyarakat bisa langsung mengakses informasi yang diinginkan.

Nah, kamu bisa merespons dengan menyediakan jasa untuk memenuhi kecenderungan masyarakan yang mudah menemukan sesuatu tersebut, seperti Location-Based Services, NFC, Digital Wallet, dan Augmented Reality.

4. Memiliki keinginan besar untuk stand out

Meski masyarakat masa kini menyukai sesuatu yang ringkas tapi berkualitas, sebagian besar masih memiliki perilaku yang dinamis. Dalam artian, mereka masih mempertimbangkan tren yang berlaku juga agar dianggap ‘kekinian’ atau mengikuti perkembangan zaman.

Melihat perilaku konsumen yang seperti ini, pelaku bisnis harus mampu melakukan behavioral tracking (menelusuri situs-situs apa atau konten-konten apa yang diakses oleh pengguna internet) untuk menentukan segmentasi pasar.  Menguasai Google Analytics dan Facebook Insight sangat membantu dalam menjawab tren perilaku konsumen seperti ini.

5. Konsumen merindukan peran offline

Sekarang semua serba online, strategi marketing jadul dilupakan saja. Yakin? Padahal, membangun koneksi online dan offline ternyata sama-sama penting. Karena bisa jadi kesempatan malah muncul dari peran offline.

Jangan pernah mengesampingkan peran offline! Jika ingin memahami keinginan dan kebutuhan pelanggan sebaik-baiknya, kamu harus bisa menarik semua pasar potensial di medium apa pun, entah itu online atau secara offline. Mengingat persaingan pasar yang ketat, pelaku usaha harus berfokus pada konsumen dan memahami betul apa yang konsumen inginkan. Semoga ulasan di atas bisa memberikan insight dan memudahkanmu dalam menyusun strategi marketing yang jenius, ya !

Love This Post